Minggu, 07 November 2021

Berikut Daftar Standar Mata Pelajaran Madrasah Diniyah Menurut Aturan Kurikulum FKDT

Pendidikan Agama semakin berkembang pesat dengan dukungan dari pemerintah. Mata pelajaran Madrasah Diniyah sendiri pada awalnya masih ambigu, menyesuaikan tujuan pendirian dan pengurusnya. Ada yang terfokus pada pengkajian kitab suci Al-Qur’an, ada pula yang sudah berkembang memiliki banyak mata pelajaran pendukung. Lalu, ada mata pelajaran apa saja di Madrasah Diniyah?

Definisi dan Daftar Mata Pelajaran Madrasah Diniyah


Madrasah dalam kamus Arabiah berasal kata “darasa” yang artinya adalah tempat duduk untuk belajar. Sementara itu, dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lembaga pendidikan berupa sekolah atau perguruan dengan konteks pembelajaran agama Islam menjadi makna dari Madrasah. Banyak dari para ahli yang juga turut mendefinisikannya, dengan makna yang sama.

Jadi, madrasah merupakan suatu lembaga yang didirikan untuk melakukan proses pembelajaran agama Islam untuk menyempurnakan ilmu pengetahuan yang didapat dari lembaga pendidikan formal.

Awalnya, Madrasah sendiri bukan merupakan suatu lembaga resmi, melainkan hanya sebagai istilah dalam tempat kegiatan belajar mengajar agama yang diselenggarakan oleh suatu pihak. Umumnya diprakarsai oleh para pemimpin agama di suatu wilayah, dan berkembang menjadi suatu lembaga pendidikan non-formal yang mulai diresmikan.

Madrasah Diniyah sendiri tadinya hanya mengajarkan pendidikan agama saja, namun ada juga yang ikut mengajarkan pelajaran umum. Maka dari itu, madrasah berkembang menjadi madrasah yang juga mengajarkan pelajaran umum, dan madrasah yang murni mengajarkan pengetahuan agama saja. Madrasah yang hanya mengajarkan pendidikan agama itulah yang disebut Madrasah Diniyah. Ada juga Madrasah Diniyah Taklimiyah yang merupakan nama setelah diresmikannya lembaga Madrasah Diniyah dalam pemerintahan.

Pelajaran yang diajarkan di Madrasah yang menjadi inti adalah mengenai baca-tulis Qur’an, dan semakin melebar dengan memasukkan ajaran-ajaran ketauhidan. Madrasah yang sudah berkembang bisa bergabung dalam aturan FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Taklimiyah) yang menjadi wadah dalam bertukar pikir antar banyak pihak penyelenggara Madrasah Diniyah Taklimiyah. FKDT ini membahas segala sesuatu yang bisa memajukan dan meningkatkan mutu Madrasah Diniyah. Termasuk salah satunya adalah aturan standar mata pelajaran agar lebih terarah.

Daftar Mata Pelajaran menurut FKDT

Madrasah Diniyah zaman sekarang sudah memiliki jenjang pendidikan seperti pada sekolah formal. Madrasah Diniyah terbagi dalam 3 jenis, yaitu Awaliyah (6 tahun), Wustha (3 tahun) dan Ulya (3 tahun). Jadi, dibutuhkan pembagian atau pengelompokan ilmu yang sesuai dengan tahapannya.

1.      Fiqh

Fiqh menjadi mata pelajaran yang amat penting karena mengajarkan hukum dancara-cara beribadah manusia.

2.      Aqidah

Ilmu mengenai kepercayaan yang bagus diterapkan sejak usia anak-anak.

3.      Akhlak

Ilmu yang mengajarkan manusia untuk berperilaku baik, mengenal baik dan buruk.

4.      al-Qur’an

Mempelajari cara baca, tulis dan menghafal.

5.      Hadits

Berisi mengenai ajaran-ajaran mengenai hadist dan hukumnya.

6.      Sejarah Peradaban Islam (Tarikh)

Berisi ilmu yang menceritakan sejarah peradaban Islam.

7.      dan  Bahasa Arab

Bahasa Arab diajarkan dengan ilmu yang biasa dikenal Nahwu Shorof.

nah, tingkat pendidikan Madrasah Diniyah ini adalah untuk anak usia minimal 7 (tujuh) tahun sampai maksimal 18 (delapan belas) tahun. Jadi, itu dia informasi mengenai standar daftar mata pelajaran Madrasah Diniyah menurut FKDT.

Singkat Namun Hikmat, KBM Madrasah Diniyah Ini Berjalan Satu Jam Perhari!

Pembelajaran Madrasah Diniyah pada zaman sekarang ini sudah mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Pasalnya, pendidikan agama sama pentingnya dengan pendidikan umum yang dapat membentuk karakter baik bagi anak. Umumnya, Madrasah Diniyah memiliki beberapa pembagian jadwal perharinya. Namun, beberapa Madrasah masih menerapkan waktu yang relatif singkat karena beberapa alasan. 




 

Metode Tepat Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

 Karakter merupakan hal yang melekat dan akan menjadi perlakuan serta pemikiran yang melekat dalam diri seseorang. Karakter tidak muncul sendiri, meski ada pendapat yang menyatakan bahwa karakter terbentuk oleh keturunan atau genetik. Yang pasti, karakter akan selalu melekat dan susah dirubah. Maka, untuk membentuk karakter yang baik dibutuhkan berbagai macam cara yang harus dilakukan secara terus-menerus.

Definisi Karakter dan Hal yang Membentuk Karakter



Secara etimologis atau asal-usul kata, karakter yang asal katanya dari bahasa Inggris yaitu character dan dari bahasa Yunani yaitu charassein yang bermakna “to engrave”. Kata “to engrave” mempunyai arti mengukir, melukis, ataupun menggoreskan. Merupakan tatanan perilaku yang melandasi pikiran, sikap, serta tindakan yang dibawakan untuk menuju suatu sistem.

Sedangkan secara Arabiah, akhlak yang berarti tabiat atau kebiasaan baik memiliki kemiripan makna dengan karakter. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, pendidikan karakter merupakan suatu usaha positif dalam menanamkan nilai-nilai yang baik berdasarkan dari agama, budaya, dan juga falsafah bangsa yang diterapkan sejak dari usia dini. Dengan tujuan, untuk membentuk karakter dengan membiasakan hal-hal yang baik sejak kecil.

Ajaran Islam pun menjelaskan mengenai hal-hal tersebut, yang juga terkandung pada dasar negara Indonesia yaitu pancasila yang berisi nilai-nilai kebangsaan. Lembaga pendidikan agama pun tidak luput dari sistem pendidikan nasional, yang dalam menjalankan tujuan pendidikannya harus berdasar pada satu kebijakan, termasuk pula dengan pendidikan karakter. Dengan begitu, pendidikan Islam dalam upaya mendidik karakter bangsa adalah sarana yang tepat.

Metode Pembentukan Karakter Anak

Di bawah ini, akan ada beberapa metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan Madrasah Diniyah yang menjadi tempat strategis untuk menumbuhkan karakter pada anak.

1.      Model Tadzkirah (Peringatan)

2.      Menunjukkan Teladan

3.      Memberikan Bimbingan/Arahan

4.      Dorongan Semangat

5.      Zakiyah atau Sentuhan Batin (Kemurnian)

6.      Kontinuitas/Pembiasaan

7.      Mengingatkan

8.      Mengulang

Metode di atas bisa dilakukan setiap hari baik di luar jam pelajaran maupun di saat jam pelajaran. Kontinuitas sangat berpengaruh dalam menerapkan dan membiasakan pembentukan karakter ini, bukan saja hanya mempelajari melainkan juga diharuskan untuk menerapkan di kehidupan sehari-hari.

Penerapan tersebut sebaiknya selalu dipantau dan harus bekerja sama dengan pihak keluarga agar penerapan metode dapat berjalan maksimal. Dengan begitu anak menjadi mau bertindak atas keinginan sendiri itu nantinya dapat melekat, menyatu dengan hati, pikiran, ucapan dan perbuatan.

Jadi yang harus berkontribusi adalah semua warga sekolah atau Madrasah Diniyah dan semua pihak keluarga, yakni ustadz-uztadzah serta orang tua. Demikian informasi mengenai metode membentuk karakter anak sejak dini. Semoga bermanfaat.

Eksistensi Madrasah Diniyah Sejak Zaman Kolonial Hingga Sekarang

Madrasah Diniyah memiliki sejarah yang cukup panjang hingga bisa berdiri dengan banyak tiang di seluruh wilayah Indonesia. Dari yang pengikutnya hanya segelintir orang hingga bisa meluluskan puluhan, ratusan bahkan ribuan santri tiap tahunnya. Sebenarnya bagaimana perjalanan sejarah Madrasah Diniyah?

Sejarah Madrasah Diniyah

Awalnya, saat sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu zaman Hindia Belanda, madrasah diniyah hanya merupakan suatu kegiatan kajian Islam yang diselenggarakan di tempat-tempat ibadah seperti Masjid dan Langgar.

Madrasah Diniyah juga awalnya banyak diselenggarakan di Pondok Pesantren. Namun, semakin berkembangnya zaman, Madrasah Diniyah semakin menyebar luas. Tujuannya adalah untuk menambah pengetahuan mengenai agama Islam pada masyarakat. Pada masa penjajahan, kegiatan ini diselenggarakan atas dukungan dari raja-raja yang berkuasa di wilayah setempat.

Sedangkan di masa setelah kemerdekaan Indonesia, pendidikan yang semakin diprioritaskan dan tumbuh berkembang itu juga menjadi faktor semakin dibutuhkannya Madrasah Diniyah. Sekolah-sekolah umum yang berkembang dipercaya belum memberikan pendidikan agama Islam yang memadai untuk peserta didiknya. Karena sekolah umum berfokus pada banyak pelajaran umum dan pelajaran agama Islam, para masyarakat merasa belum puas.

Madrasah Diniyah sendiri tadinya hanya mengajarkan pendidikan agama saja, namun ada juga yang ikut mengajarkan pelajaran umum. Maka dari itu, madrasah berkembang menjadi madrasah yang juga mengajarkan pelajaran umum, dan madrasah yang murni mengajarkan pengetahuan agama saja. Madrasah yang hanya mengajarkan pendidikan agama itulah yang disebut Madrasah Diniyah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Madrasah Diniyah terbentuk secara perlahan seiring berjalannya waktu dari yang paling sederhana yaitu tempat ibadah, dan berkembang karena diakui berpengaruh dalam kehidupan menjadi lembaga yang memiliki bangunan sendiri dengan memegang kepercayaan dari masyarakat untuk mengajarkan ilmu agama sampai pada saat sekarang ini.

Madrasah Diniyah Menjadi Lembaga Pendidikan yang Tahan Banting

Potensi yang dimiliki Madrasah Diniyah adalah mampu menghadapi sepak terjang yang ada di lingkungan masyarakat. Jika ada kekurangan, Madrasah Diniyah akan mampu bertahan dan diharuskan untuk terus berkembang. Madrasah Diniyah juga memiliki kekuatan yang berbeda dari lembaga pendidikan formal, yang mana bisa memilih pola, pendekatan, bahkan sistem pembelajarannya. Pendekatannya bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang akan dicapai dari pembelajaran, jadi Madrasah Diniyah akan lebih fleksibel dan mampu secara matang mentransfer ilmu pada peserta didiknya.

Karena Madrasah Diniyah ini adalah lembaga yang didirikan di tengah masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat, dengan ruang lingkup yang sempit itu kebanyakan Madrasah Diniyah justru berdiri di satu lingkungan yang tidak cukup memadahi. Lembaga Madrasah Diniyah ini yang didirikan secara swasta tanpa bantuan pemerintah harus mengakali masalah keuangan dan harus tetap berfokus pada tujuan awalnya.

Oleh karena itu, sebenarnya banyak Madrasah Diniyah yang kekurangan dan kesulitan untuk berkembang namun tetap diharuskan untuk berkembang demi menyejahterakan masyarakatnya. Resikonya adalah, Madrasah Diniyah tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan dan kekurangan sarana prasarana. Hal itu nantinya juga akan berdampak pada kualitas pengetahuan peserta didiknya.

Jadi, demikian informasi mengenai sejarah dan eksistensi Madrasah Diniyah. Semoga bermanfaat.

Intip Keseruan Perayaan Hari Santri 22 Oktober di Madrasah Diniyah