Karakter merupakan hal yang melekat dan akan menjadi perlakuan serta pemikiran yang melekat dalam diri seseorang. Karakter tidak muncul sendiri, meski ada pendapat yang menyatakan bahwa karakter terbentuk oleh keturunan atau genetik. Yang pasti, karakter akan selalu melekat dan susah dirubah. Maka, untuk membentuk karakter yang baik dibutuhkan berbagai macam cara yang harus dilakukan secara terus-menerus.
Definisi Karakter dan Hal yang Membentuk Karakter
Secara etimologis atau asal-usul kata, karakter yang asal katanya
dari bahasa Inggris yaitu character dan dari bahasa Yunani yaitu charassein
yang bermakna “to engrave”. Kata “to engrave” mempunyai arti
mengukir, melukis, ataupun menggoreskan. Merupakan tatanan perilaku yang
melandasi pikiran, sikap, serta tindakan yang dibawakan untuk menuju suatu
sistem.
Sedangkan secara Arabiah, akhlak yang berarti tabiat atau kebiasaan
baik memiliki kemiripan makna dengan karakter. Berdasarkan definisi-definisi
tersebut, pendidikan karakter merupakan suatu usaha positif dalam menanamkan
nilai-nilai yang baik berdasarkan dari agama, budaya, dan juga falsafah bangsa
yang diterapkan sejak dari usia dini. Dengan tujuan, untuk membentuk karakter
dengan membiasakan hal-hal yang baik sejak kecil.
Ajaran Islam pun menjelaskan mengenai hal-hal tersebut, yang juga
terkandung pada dasar negara Indonesia yaitu pancasila yang berisi nilai-nilai
kebangsaan. Lembaga pendidikan agama pun tidak luput dari sistem pendidikan
nasional, yang dalam menjalankan tujuan pendidikannya harus berdasar pada satu
kebijakan, termasuk pula dengan pendidikan karakter. Dengan begitu, pendidikan
Islam dalam upaya mendidik karakter bangsa adalah sarana yang tepat.
Metode Pembentukan Karakter Anak
Di bawah ini, akan ada beberapa metode yang bisa diterapkan dalam
pendidikan Madrasah Diniyah yang menjadi tempat strategis untuk menumbuhkan
karakter pada anak.
1.
Model
Tadzkirah (Peringatan)
2.
Menunjukkan
Teladan
3.
Memberikan
Bimbingan/Arahan
4.
Dorongan
Semangat
5.
Zakiyah
atau Sentuhan Batin (Kemurnian)
6.
Kontinuitas/Pembiasaan
7.
Mengingatkan
8.
Mengulang
Metode di atas
bisa dilakukan setiap hari baik di luar jam pelajaran maupun di saat jam
pelajaran. Kontinuitas sangat berpengaruh dalam menerapkan dan membiasakan
pembentukan karakter ini, bukan saja hanya mempelajari melainkan juga
diharuskan untuk menerapkan di kehidupan sehari-hari.
Penerapan tersebut
sebaiknya selalu dipantau dan harus bekerja sama dengan pihak keluarga agar
penerapan metode dapat berjalan maksimal. Dengan begitu anak menjadi mau
bertindak atas keinginan sendiri itu nantinya dapat melekat, menyatu dengan
hati, pikiran, ucapan dan perbuatan.
Jadi yang harus
berkontribusi adalah semua warga sekolah atau Madrasah Diniyah dan semua pihak
keluarga, yakni ustadz-uztadzah serta orang tua. Demikian informasi mengenai
metode membentuk karakter anak sejak dini. Semoga bermanfaat.