Madrasah Diniyah memiliki sejarah yang
cukup panjang hingga bisa berdiri dengan banyak tiang di seluruh wilayah
Indonesia. Dari yang pengikutnya hanya segelintir orang hingga bisa meluluskan
puluhan, ratusan bahkan ribuan santri tiap tahunnya. Sebenarnya bagaimana
perjalanan sejarah Madrasah Diniyah?
Sejarah Madrasah Diniyah
Awalnya,
saat sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu zaman Hindia Belanda, madrasah
diniyah hanya merupakan suatu kegiatan kajian Islam yang diselenggarakan di
tempat-tempat ibadah seperti Masjid dan Langgar.
Madrasah Diniyah juga awalnya banyak
diselenggarakan di Pondok Pesantren. Namun, semakin berkembangnya zaman,
Madrasah Diniyah semakin menyebar luas. Tujuannya adalah untuk menambah
pengetahuan mengenai agama Islam pada masyarakat. Pada masa penjajahan,
kegiatan ini diselenggarakan atas dukungan dari raja-raja yang berkuasa di
wilayah setempat.
Sedangkan
di masa setelah kemerdekaan Indonesia, pendidikan yang semakin diprioritaskan
dan tumbuh berkembang itu juga menjadi faktor semakin dibutuhkannya Madrasah
Diniyah. Sekolah-sekolah umum yang berkembang dipercaya belum memberikan
pendidikan agama Islam yang memadai untuk peserta didiknya. Karena sekolah umum
berfokus pada banyak pelajaran umum dan pelajaran agama Islam, para masyarakat
merasa belum puas.
Madrasah
Diniyah sendiri tadinya hanya mengajarkan pendidikan agama saja, namun ada juga
yang ikut mengajarkan pelajaran umum. Maka dari itu, madrasah berkembang
menjadi madrasah yang juga mengajarkan pelajaran umum, dan madrasah yang murni
mengajarkan pengetahuan agama saja. Madrasah yang hanya mengajarkan pendidikan
agama itulah yang disebut Madrasah Diniyah.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa Madrasah Diniyah terbentuk secara perlahan seiring berjalannya waktu dari
yang paling sederhana yaitu tempat ibadah, dan berkembang karena diakui
berpengaruh dalam kehidupan menjadi lembaga yang memiliki bangunan sendiri dengan
memegang kepercayaan dari masyarakat untuk mengajarkan ilmu agama sampai pada
saat sekarang ini.
Madrasah Diniyah Menjadi Lembaga Pendidikan yang Tahan Banting
Potensi
yang dimiliki Madrasah Diniyah adalah mampu menghadapi sepak terjang yang ada
di lingkungan masyarakat. Jika ada kekurangan, Madrasah Diniyah akan mampu
bertahan dan diharuskan untuk terus berkembang. Madrasah Diniyah juga memiliki
kekuatan yang berbeda dari lembaga pendidikan formal, yang mana bisa memilih
pola, pendekatan, bahkan sistem pembelajarannya. Pendekatannya bisa disesuaikan
dengan kondisi dan tujuan yang akan dicapai dari pembelajaran, jadi Madrasah
Diniyah akan lebih fleksibel dan mampu secara matang mentransfer ilmu pada
peserta didiknya.
Karena
Madrasah Diniyah ini adalah lembaga yang didirikan di tengah masyarakat dengan
tujuan untuk meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat, dengan ruang lingkup
yang sempit itu kebanyakan Madrasah Diniyah justru berdiri di satu lingkungan
yang tidak cukup memadahi. Lembaga Madrasah Diniyah ini yang didirikan secara
swasta tanpa bantuan pemerintah harus mengakali masalah keuangan dan harus
tetap berfokus pada tujuan awalnya.
Oleh
karena itu, sebenarnya banyak Madrasah Diniyah yang kekurangan dan kesulitan
untuk berkembang namun tetap diharuskan untuk berkembang demi menyejahterakan
masyarakatnya. Resikonya adalah, Madrasah Diniyah tidak memiliki fasilitas yang
dibutuhkan dan kekurangan sarana prasarana. Hal itu nantinya juga akan
berdampak pada kualitas pengetahuan peserta didiknya.
Jadi,
demikian informasi mengenai sejarah dan eksistensi Madrasah Diniyah. Semoga
bermanfaat.